





Pada 11 September 2025, Sedekah Oksigen menyalurkan dukungan kemanusiaan untuk Palestina melalui relawan lokal di lokasi. Bantuan difokuskan pada pemenuhan kebutuhan pangan, disiapkan dan dibagikan langsung di lapangan. Di tengah keterbatasan, proses memasak, membungkus, dan menyalurkan makanan dilakukan secara gotong royong—sederhana, namun penuh keteguhan. Kehadiran ini bukan sekadar penyaluran bantuan, melainkan ikhtiar untuk tetap membersamai kehidupan sehari-hari di tengah situasi yang sulit.
Melalui pesan yang kami terima, relawan dan penerima bantuan menyampaikan suara yang jujur tentang hari-hari yang mereka jalani.
“Kami hidup dalam kondisi yang sangat sulit. Selama dua tahun penuh kami kehilangan rumah, harta, dan rasa aman. Kami berpindah dari satu tempat ke tempat lain, menghindari bahaya, ketakutan, dan kelaparan,” tulis mereka.
Namun di balik itu, terselip kekuatan yang menguatkan:
“Ketika keadaan terasa sempit, kalian adalah sebab ringannya penderitaan kami.”
Ungkapan terima kasih itu ditutup dengan doa yang sederhana namun dalam:
“Semoga Allah membalas kebaikan kalian dan memberi keselamatan di dunia dan akhirat.”
Bagi Sedekah Oksigen, pesan ini adalah pengingat bahwa kemanusiaan tidak berhenti pada jarak. Ketika satu saudara terluka, kepedulian menjadi panggilan bersama. Dukungan ini akan terus dijaga sebagai bagian dari komitmen untuk hadir secara berkelanjutan—pelan, namun tetap berjalan.

“Selanjutnya, saya ingin berterima kasih sedalam-dalamnya saudaraku terkasih ust Fadhil beserta komunitasnya (Yuk Sebar!), kamu dan saudara2 kami di Indonesia, yang saya sudah mengenal akhlak mereka sejak kuliah dahulu, bahwa kalian sangat mencintai Palestina, dan masjid Al Aqsa dari dalam hati kalian, dan kalian adalah saudara kami yang hakiki.”
“Juga terkhuhus terima kasih kami untuk komunitas Sedekah Oksigen yang secara continue selalu membersamai kami selama perang berlangsung.”

Leave a Reply