



Lampung tidak pernah benar-benar jauh di peta. Dari Jakarta, ia hanya seberang laut. Tapi ketika kaki benar-benar melangkah ke pelosoknya, jarak itu terasa lain: bukan soal kilometer, melainkan soal akses, kesempatan, dan perhatian yang jarang sampai.
Di sebuah lokasi yang sederhana—terlihat dari bangunan, lantai, dan wajah-wajah anak yang menunggu dengan tenang—kami menyaksikan bagaimana “dekat” tidak selalu berarti “tersentuh”. Jalan menuju titik pembagian tidak selalu mulus. Transportasi terbatas, lingkungan masih bertumpu pada daya hidup lokal, dan sebagian besar keluarga menggantungkan penghasilan pada sektor informal dan pekerjaan harian. Dalam kondisi seperti ini, sekolah bukan sekadar rutinitas pagi, melainkan perjuangan yang harus terus diusahakan.
Pada kegiatan ini, kami membagikan tas sekolah lengkap dengan isinya, Al-Qur’an, dan sarung kepada anak-anak. Barang-barang sederhana, namun memiliki makna panjang. Tas bukan hanya wadah buku, tapi simbol keberlanjutan sekolah. Al-Qur’an dan sarung bukan sekadar perlengkapan ibadah, melainkan penguat nilai dan identitas di tengah keterbatasan.
Secara umum, Lampung memiliki jumlah peserta didik usia sekolah dasar yang besar, namun tantangan ekonomi keluarga membuat sebagian anak rentan tertinggal. Banyak orang tua bekerja sebagai buruh, petani kecil, atau pekerja serabutan dengan pendapatan yang tidak menentu. Dalam situasi seperti ini, biaya pendidikan—meski tampak kecil—sering menjadi beban nyata. Akses ke perlengkapan sekolah yang layak masih menjadi kemewahan bagi sebagian keluarga.
Itulah mengapa kehadiran di sini bukan semata soal distribusi bantuan. Ini tentang memastikan anak-anak merasa dilihat, dihargai, dan diyakinkan bahwa mereka pantas untuk terus belajar. Bahwa jarak dari ibu kota tidak mengurangi hak mereka atas masa depan.
Kami datang ke Lampung karena ia dekat di hati. Dan apa yang dekat di hati, seharusnya dekat pula dalam aksi. Setiap tas yang berpindah tangan hari itu bukan hanya mengisi kebutuhan sesaat, tetapi menyentuh harapan—bahwa sekolah tetap bisa dijalani, dan mimpi tidak harus berhenti di batas geografis.

Leave a Reply