



Jumat, 9 Oktober 2015.
Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
Pada hari-hari itu, Palangkaraya hampir tidak mengenal langit biru. Matahari menghilang. Bukan sehari dua hari, tetapi berbulan-bulan. Enam bulan penuh, kota ini hidup di bawah selimut asap.
Foto-foto yang diambil pada tanggal ini tampak kuning dan buram. Bukan karena kamera seadanya, bukan pula karena foto lama. Warna itu adalah udara. Kualitas udara yang pekat, menutup jarak pandang, dan meninggalkan bau yang sulit dijelaskan—mirip tetangga membakar sampah, tetapi jauh lebih tebal, lebih menusuk, dan tidak pernah benar-benar pergi.
Baunya menempel. Di pakaian. Di rumah. Di napas.
Setiap orang terdampak. Anak-anak, orang tua, pengendara motor, keluarga di rumah. Tidak ada ruang benar-benar aman dari asap. Bernapas menjadi aktivitas yang disadari, bukan lagi refleks.
Dalam situasi seperti ini, Sedekah Oksigen hadir dengan distribusi oksigen kaleng. Pilihan ini diambil karena oksigen kaleng bisa langsung digunakan, dibawa ke mana-mana, dan diakses oleh siapa pun—tanpa menunggu fasilitas atau kondisi khusus.
Dokumentasi kegiatan pada masa ini masih sangat sederhana. Kondisinya darurat. Yang terpenting adalah mencatat bahwa sesuatu dilakukan, bahwa bantuan benar-benar sampai, dan bahwa dokumentasi tersebut tidak disalahgunakan. Logo belum ada, sistem belum rapi, sehingga watermark besar menjadi pilihan paling masuk akal saat itu. Tidak estetik, tapi aman.
Tulisan ini tidak membahas dari mana kabut asap berasal, atau mengapa ia bisa berlangsung selama itu. Pertanyaan-pertanyaan itu ada, dan penting. Namun pada masa ini, yang paling terasa adalah satu hal sederhana: bagaimana rasanya hidup ketika udara—sesuatu yang paling dasar—tidak lagi bisa diandalkan.
Sedekah Oksigen mencatat hari-hari ini sebagai pengingat. Bahwa krisis bisa datang diam-diam, bertahan lama, dan memengaruhi semua orang. Dan bahwa di tengah kondisi seperti itu, menghadirkan akses bernapas adalah bentuk kepedulian paling mendasar.

Leave a Reply