Resolusi, Doa, dan Pilihan untuk Menjaganya



Tadi malam kami berbincang tentang resolusi. Bukan daftar target muluk, bukan juga rencana lima tahun ke depan. Lebih ke arah pertanyaan sederhana:
resolusi itu sebaiknya diumumkan, atau cukup disimpan?
Ada yang merasa perlu mengucapkannya ke banyak orang, supaya lebih banyak doa yang mengalir. Ada juga yang memilih diam, bukan karena tidak serius, tapi karena ingin menjaga niat, menghindari penilaian, atau sekadar menghindari rasa takut akan ain dan komentar yang melemahkan.
Masing-masing pilihan terasa valid.
Tahun ini, Kak Ukat memilih resolusi yang tidak berisik: ingin lebih sabar. Belajar dari Ash-Shabur, Maha Sabarnya Allah, yang tetap memberi meski manusia sering lupa bersyukur.
Fanny memilih untuk belajar menahan diri. Tidak lagi selalu bereaksi cepat ketika melihat orang membutuhkan bantuan. Bukan menjadi cuek, tapi belajar memastikan bahwa bantuan yang diberikan benar-benar tepat, bukan sekadar reaksi emosional sesaat.
Tya memilih resolusi yang sangat manusiawi: ingin sehat, gembira, dan tidak sombong. Mengingatkan diri sendiri bahwa hidup ini rapuh, dan tidak ada jaminan usia panjang yang membuat kita berhak merasa paling tahu.
Obrolan ini tidak menghasilkan kesimpulan besar. Tapi justru di situlah nilainya. Resolusi ternyata tidak harus dipamerkan, juga tidak harus dirahasiakan mati-matian. Yang penting, ia menjadi ruang muhasabah, tempat kita jujur melihat diri sendiri, dan perlahan memperbaiki arah.
Mungkin, resolusi terbaik bukan yang terdengar paling keren, tapi yang paling konsisten kita perjuangkan, meski tak banyak yang tahu.
Video lengkapnya ada di link ini ya. Rabu Sedekah Ilmu Reborn Episode 002.

Leave a comment