Di banyak lokasi bencana, baju layak pakai sering justru menjadi tumpukan. Bukan karena tidak dibutuhkan, tetapi karena proses penyortirannya tidak selalu tepat. Baju datang dalam jumlah besar, bercampur antara yang masih pantas dan yang sudah sangat tidak layak, sehingga relawan di lapangan harus bekerja ekstra untuk memilah satu per satu, di tengah keterbatasan waktu dan tenaga.
Sebagian donasi yang tidak bisa lagi diangkut ke Garut hari itu akhirnya diminta oleh Ibu Sapiah untuk keluarganya di kampung. Beliau tinggal di Dusun Majasari, Kecamatan Lebak, Rangkasbitung. Dua karung dan tiga dus sedang berisi baju layak pakai diterima dengan kondisi apa adanya, setelah dikonfirmasi sebelumnya bahwa beliau bersedia menerimanya.
Ada satu hal yang membekas. Baju-baju yang semula dianggap “sudah sangat tidak layak” oleh kami, ternyata masih mampu menghadirkan rasa senang bagi orang lain. Senyum Ibu Sapiah dan orang-orang di kampungnya hari itu menjadi pengingat sederhana, bahwa nilai sebuah barang tidak selalu sama bagi setiap orang.
Namun, dari pengalaman ini pula, ada pesan penting yang perlu terus diingat bersama. Mereka yang terdampak bencana bukan sekadar penerima bantuan. Mereka adalah manusia yang tetap memiliki martabat, rasa, dan hak untuk dihormati. Mengirim baju layak pakai berarti benar-benar mengirim baju yang sudah disortir dengan penuh kepedulian, bersih, dan pantas dikenakan, bukan sekadar memindahkan tumpukan dari satu tempat ke tempat lain.
Donasi yang baik bukan hanya tentang memberi, tetapi juga tentang cara memberi. Tentang empati yang diwujudkan dalam tindakan kecil namun bermakna.
Hari itu, senyum Ibu Sapiah men

Leave a comment