



Pendidikan seharusnya menjadi hak setiap anak, bukan hak istimewa yang hanya bisa diakses oleh mereka yang lahir di keluarga dengan kondisi ekonomi mapan.
Luwih Irfandi adalah salah satu siswa SMK di Indramayu yang nyaris harus menghentikan langkahnya di bangku sekolah. Ayahnya bekerja sebagai nelayan, menggantungkan penghasilan dari laut dengan pemasukan yang tidak menentu. Ketika kebutuhan hidup harus diprioritaskan, biaya pendidikan menjadi beban yang sulit dipenuhi.
Melalui proses pendampingan dan verifikasi kondisi keluarga, Sedekah Oksigen menyalurkan dukungan pendidikan agar Luwih tetap bisa bersekolah. Bantuan ini bukan sekadar soal biaya, tetapi tentang menjaga agar harapan seorang anak tidak padam sebelum waktunya.
Di banyak wilayah pesisir, kisah seperti ini bukanlah hal yang jarang. Anak-anak dari keluarga nelayan seringkali harus berhadapan dengan pilihan yang tidak adil: melanjutkan sekolah atau membantu keluarga bertahan hidup. Padahal, pendidikan justru menjadi jalan penting untuk memutus rantai keterbatasan ekonomi di masa depan.
Apa yang dilakukan para donatur melalui Sedekah Oksigen adalah bentuk kepedulian yang sangat konkret. Sebuah uluran tangan yang memungkinkan satu anak tetap duduk di bangku sekolah, tetap belajar, dan tetap bermimpi.
Karena pada akhirnya, bangsa ini dibangun bukan hanya oleh mereka yang mampu, tetapi oleh mereka yang diberi kesempatan.

Leave a comment