








Pagi itu, langkah kami sampai di SDN Kutakarang 3, sebuah sekolah dasar di pesisir selatan Kabupaten Pandeglang, Banten. Kutakarang bukan nama yang sering terdengar. Ia jauh dari hiruk-pikuk kota, jauh dari Jakarta—sekitar 170–180 kilometer, namun jarak sebenarnya bukan soal angka. Jalan menuju ke sini berliku, sebagian sempit, sebagian rusak, melewati kampung-kampung kecil dan bentang alam yang membuat waktu seolah berjalan lebih lambat.
Sekolah ini berdiri sederhana. Dinding anyaman bambu, meja kayu yang mulai aus, rak buku yang tak pernah benar-benar penuh. Di ruang kelasnya, anak-anak duduk rapat, membuka buku dengan hati-hati, seolah setiap lembar kertas adalah sesuatu yang berharga. Dan memang, di tempat seperti ini, buku adalah kemewahan.
Bersama Komunitas Icikiwir Berbagi, Sedekah Oksigen hadir membawa Iqro dan Al-Qur’an. Bukan sekadar membagikan kitab, tapi menitipkan harapan—bahwa anak-anak di Kutakarang tetap punya akses untuk belajar, membaca, mengenal nilai, dan tumbuh dengan pegangan hidup yang kuat. Mereka adalah anak-anak pesisir, banyak di antara orang tuanya bekerja sebagai nelayan dan buruh harian, hidup berdampingan dengan ketidakpastian cuaca dan penghasilan.
Saat satu per satu anak menerima Iqro dan Al-Qur’an, tak ada sorak berlebihan. Yang ada adalah tatapan mata yang serius, senyum kecil yang ditahan, dan tangan-tangan mungil yang memeluk buku seolah takut hilang. Di momen itu, kami kembali diingatkan: bantuan yang tepat bukan tentang banyaknya, tapi tentang kebermanfaatannya.
Kutakarang mungkin jauh dari pusat kota, tapi ia dekat di hati. Dan seperti itulah seharusnya kerja-kerja kemanusiaan berjalan: mendekatkan aksi ke tempat-tempat yang jarang disorot, namun nyata membutuhkan uluran tangan. Dari pesisir selatan Banten ini, kami belajar bahwa sinergi tidak pernah sia-sia—ia selalu menemukan jalannya sendiri untuk sampai.

Leave a comment