Menyemai Semangat Sekolah di Palangkaraya Pasca Kabut Asap


Palangkaraya — ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah — bukan sekadar titik di peta. Kota ini dikenal sebagai pusat pemerintahan, pendidikan, dan kebudayaan di wilayah tersebut, namun juga pernah dilanda salah satu bencana kabut asap terparah di Indonesia. Pada akhir 2015, kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan berkepanjangan menyelimuti kota ini selama berminggu-minggu, bahkan memaksa sekolah diliburkan berulang kali demi kesehatan siswa dan warga. Sekolah-sekolah di Palangkaraya sempat ditutup berulang kali, karena kabut asap mempengaruhi kegiatan belajar mengajar dan kesehatan anak. Situasi itu menyebabkan siswa harus beristirahat di rumah lebih lama dari jadwal sekolah normal demi menghindari paparan polusi udara yang sangat tinggi. suara.com+1

Menapak dari pengalaman itu, pendidikan dan akses belajar menjadi isu sensitif di kota ini — bukan hanya soal fasilitas fisik, tetapi juga soal bagaimana anak-anak bisa melanjutkan sekolah setelah mereka terganggu oleh kabut asap yang menyelimuti langit hingga berminggu-minggu. Meski kondisinya relatif telah membaik beberapa bulan kemudian, tantangan nyata tetap ada: bagaimana memastikan anak-anak tidak kehilangan momentum belajar setelah gangguan besar seperti kabut asap?

Pada 19 April 2016, Sedekah Oksigen menyiapkan sebuah aksi yang bukan sekadar membawa barang, tetapi juga membawa semangat. Tim bergerak menuju sebuah sekolah di Palangkaraya untuk membagikan tas sekolah lengkap dengan perlengkapannya kepada murid-murid yang datang ke sekolah pagi itu. Tas merah yang dibagikan bukan hanya berisi buku dan alat tulis, tetapi juga harapan yang dibawa kembali ke dalam rutinitas belajar mereka.

Momen pembagian berlangsung di halaman sekolah, di depan bangunan berwarna cerah yang menjadi saksi ruang belajar anak-anak setempat. Anak-anak yang datang mengenakan seragam putih-hijau berdiri rapi menunggu giliran menerima tas mereka. Sejumlah guru dan tokoh sekolah hadir menyambut — beberapa di antaranya mengenakan pakaian formal putih, tanda bahwa hari ini bukan hari biasa.

Salah seorang guru yang hadir pada hari itu menceritakan bagaimana kabut asap tahun lalu sempat membuat anak-anak libur berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Setelah sekolah kembali dibuka, tantangan mereka tidak berhenti: jadwal belajar yang tertinggal, kekhawatiran orang tua, hingga kebutuhan alat belajar yang sering kali tidak cukup karena ekonomi keluarga yang terbatas. Bantuan berupa tas sekolah lengkap ini menjadi sedikit penopang bagi anak-anak yang bersemangat kembali ke sekolah setelah gangguan besar yang mereka alami.

Anak-anak menatap tas merah itu dengan penuh kegembiraan, beberapa tampak memegangnya dengan kedua tangan sebelum akhirnya mengenakannya di punggung mereka. Bagi mereka, tas sekolah bukan semata alat untuk membawa buku — ini adalah tanda bahwa pendidikan itu penting, bahwa sekolah harus terus dijalani, dan bahwa mereka tidak sendiri dalam perjalanan belajar itu.

Aksi ini menjadi refleksi kecil dari sebuah prinsip besar: meskipun tantangan besar seperti kabut asap pernah menunda kegiatan belajar, kebaikan dari orang-orang yang peduli dapat menguatkan langkah anak-anak untuk kembali duduk di bangku kelas, menatap masa depan mereka dengan semangat baru.

Di Palangkaraya, di bawah langit yang kini lebih bersih dari kabut asap masa lalu, harapan belajar anak-anak ini kembali menyala — tas sekolah di punggung mereka bukan hanya perlengkapan, tetapi juga simbol bahwa pendidikan tetap harus diperjuangkan.

Leave a comment