





















September–November 2015.
Palembang, Sumatera Selatan.
Kabut asap menyelimuti kota dalam waktu yang panjang. Jarak pandang menurun, mata perih, dada terasa berat. Foto-foto yang diambil pada masa itu tampak menguning—bukan karena usia gambar, melainkan karena kualitas udara yang memang seburuk itu.
Sedekah Oksigen memilih mendistribusikan oksigen kaleng sebagai respons darurat. Pilihan ini bukan tanpa pertimbangan. Oksigen kaleng memungkinkan siapa pun untuk menggunakannya secara mandiri, mudah dibawa ke mana-mana, dan dapat diakses oleh masyarakat luas—tanpa perlu alat khusus atau fasilitas medis.
Secara ekonomi, pilihan ini jauh dari kata murah. Bahkan pada satu titik, kebutuhan meningkat sedemikian rupa hingga pemesanan harus dilakukan langsung ke pabrik di Sidoarjo.
Dokumentasi kegiatan pada masa ini—jujur saja—masih sangat apa adanya. Situasi benar-benar darurat. Yang penting ada catatan visual, ada bukti kegiatan, dan tidak disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Logo resmi belum ada, sistem dokumentasi belum rapi, jadi solusi paling praktis saat itu adalah watermark besar-besar. Sangat besar. Hampir menutup foto. Tapi setidaknya aman.
Distribusi dilakukan di berbagai titik, menjangkau keluarga, orang tua, dan anak-anak. Dampak kabut asap tidak memilih. Ia masuk ke rumah, ke ruang tidur, ke paru-paru semua orang.
Laporan ini tidak berfokus pada angka.
Ia merekam masa ketika udara bersih tidak lagi tersedia secara normal, dan bernapas menjadi perjuangan sehari-hari.
Sedekah Oksigen hadir dengan satu keyakinan sederhana: ketika napas terganggu, akses harus didekatkan—meski biayanya lebih besar, meski jalurnya belum rapi, dan meski dokumentasinya masih belajar sambil jalan.

Leave a comment